Rabu, 08 Februari 2012

Selamat Pagi, Putri

Suatu ketika di sebuah rumah, seorang ibu sering kali merasa kewalahan menasehati putri semata wayangnya. Putri memiliki beberapa kebiasaan jelek. Bila melakukan kesalahan, dia pandai berkilah dan tak jarang selalu mencoba menyalahkan pihak lain sebagai penyebabnya. Kebiasaan jelek lainnya adalah suka meletakkan barang-barang sembarangan. Maka, ketika membutuhkan barang tersebut, Putri akan berteriak-teriak sambil memporakporandakan benda apa saja untuk menemukan barang yang dicari. Selain itu, karena hasil ujian sekolahnya kurang bagus, bila diingatkan untuk belajar, dia akan bersungut-sungut sambil mengomentari bahwa ulangan jelek adalah biasa. Bahkan, ia selalu beralasan, "Teman yang lain ulangannya juga ada yang jelek, bukan hanya aku."


Setiap kali Putri melakukan kesalahan, sang ibu berusaha memberitahu dan menasihati. Tapi, bukannya mendengar dan mencoba berubah, Putri malah sering menunjukkan perasaan jengkel, sebal, dan marah-marah tak karuan. Tak jarang ia juga berani membantah sambil berkata, "Uuh, ibu cerewet. Benar-benar nggak sayang sama aku. Aku kan sudah besar, kenapa masih diomelin melulu setiap aku melakukan kesalahan? Padahal, salah itu kan biasa. Belum lagi tugas membersihkan rumah tiap sore, kapan dong waktu untuk main?"

Beberapa hari ini, Putri tidak mau menyapa ibunya. "Untuk apa bicara sama ibu kalau hanya menjadi sumber pertengkaran?" Itu yang ada dalam benak Putri. Sang ibu yang bijaksana hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah anaknya.


Ketika menjelang hari Minggu, Putri berencana pergi bersepeda pagi-pagi bersama dengan teman-temannya. Tetapi Putri tahu, ia tidak akan pernah bisa bangun sepagi itu. Mau tidak mau, ia harus minta bantuan sang ibu membangunkannya. Sebab, hari Minggu ini Putri hanya berdua dengan ibu di rumah karena ayah sedang tugas ke luar kota. Tapi, Putri masih merasa jengkel dengan ibunya dan belum mau menyapa ibunya. "Ihhh... maaf ya. Belum saatnya menyapa ibu, hati ini masih jengkel," batin Putri.


Akhirnya, Putri mendapat sebuah ide. Malam hari menjelang tidur, putri menulis pesan pada secarik kertas dan meletakkannya di meja kamar tidur ibunya. "Ibu, besok Putri akan pergi bersepeda bersama dengan teman-teman. Tolong bangunkan jam setengah enam pagi ya," tulis Putri dalam kertas itu. Setelah menulis di kertas, dia berangkat tidur dengan nyenyak.


Keesokan hari, saat terbangun, Putri terkejut melihat jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan ia pun ditinggal teman-temannya. Ia membatin, betapa jahat ibunya. Putri merasa ibunya tidak menyayanginya, sebab, ia merasa sudah minta tolong kepada ibu untuk membangunkannya lebih pagi.
Saat marah-marah, mata Putri tertuju pada secarik kertas di atas meja kamarnya. Ia segera membaca tulisan itu. "Selamat pagi Putri, ayo bangun! Ini sudah jam setengah enam pagi. Tertanda: ibu." Putri pun tersadar dan merasa malu terhadap dirinya sendiri. Ia berjanji, tidak akan mengulangi lagi kesalahan dan akan lebih menghormati ibunya.





Blogger yang budiman,



Ada pepatah bijak mengatakan surga ada di bawah telapak kaki ibu. Sebab, dari rahimnyalah kita dilahirkan. Sembilan bulan lebih ibu membawa kita dalam kandungannya tanpa keluhan dan tanpa harap balasan. Namun, seringkali kita justru berbuat yang kurang berkenan kepada ibu.


Kadang, saat ibu menasihati, kita merasa ibu sok tahu. Kalau ibu sudah capek-capek memasak makanan untuk kita, tanpa rasa bersalah kita sisakan banyak makanan di piring. Kalau ibu menyapa dan bertanya siapa kekasih kita, kadang kita jawab agar ibu jangan suka ikut campur. Padahal, sadarkah betapa besar kasih dan kepedulian seorang ibu bagi kita? Untuk itu kita perlu menyadari bahwa dalam setiap sapaan ibu, dan bahkan saat beliau marah, itu adalah wujud kasih sayang yang terbesar bagi kita.


Pepatah menyebutkan, kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah. Di lubuk hati seorang ibu, selalu tersedia maaf bagi kesalahan yang diperbuat putra putrinya, sengaja ataupun tidak. Karena itu, sudah sepantasnya kita sebagai anak harus menunjukkan bakti kita kepada ibu meski ia tak pernah mengharap balasan apapun. Jadi, sudahkah kita berbuat sesuatu untuk ibu kita? Atau, minimal, sudahkan kita ucapkan terima kasih dan cinta kepada ibu kita hari ini?

Berhenti Sejenak

Dikisahkan, ada seorang pemuda yang tengah berkendara di keramaian. Sifatnya yang kurang sabar dan kurang peduli pada lingkungan di sekitar, membuatnya stres setiap kali terjebak kemacetan.


Si pemuda terburu-buru karena hendak meeting, tapi tiba-tiba lampu hijau dengan cepat kembali merah. "Haaah....lampu merah lagi," gerutunya sambil melirik ke arah jam di tangannya. "Aku harus secepat mungkin menerobos begitu lampu hijau menyala," lanjutnya bertekad keras untuk mengalahkan waktu. Dia pun bersiap untuk tancap gas.

Tiba-tiba ada pemandangan yang sangat menarik di depan lampu lalu lintas. Ada sepasang suami istri tua renta yang hendak menyeberang jalan. Si suami menuntun si istri. Mereka membawa tongkat, dengan perlahan dan sangat hati-hati, selangkah-selangkah maju ke depan. "Aaakh kasihan kedua orang buta ini, ke mana anak-anaknya, kok tidak mengantar," batin si pemuda sambil memperhatikan langkah kedua orang tua itu di depannya.


Seketika, suasana menjadi mencekam. Kedua orang tua itu, yang mungkin bermata rabun, semakin berjalan ke tengah keramaian. Kendaraan yang dari arah berlawanan, jika tidak berhati-hati pasti akan menabrak mereka.


Kemudian, apa yang terjadi membuat si pemuda serasa tak percaya. Semua kendaraan berhenti serentak; tak ada suara klakson, tidak ada suara teriakan ketidaksabaran. Sekejab, seolah-olah demi kedua orang tua ini, semua berhenti. Semua pengemudi dan orang di sekitar situ melihat mereka dengan tegang.


Pengemudi di sebelah pemuda itu mulai berteriak, "Ke kanan....ke kanaaan!" Yang lain juga mulai berteriak memberi petunjuk. Dan perlahan-lahan, mereka mengubah arah dan akhirnya tiba di seberang jalan dengan selamat. Tangan mereka tetap bergandengan dan raut wajah mereka tampak tetap tenang seolah-olah mereka tidak pernah mengalami ancaman maut yang menegangkan.


"Huaaah...," terasa semua orang melepas napas lega. Jelas sekali, semua orang tiba-tiba peduli pada keselamatan orang lain; yang terburu-buru menjadi sabar menunggu dan bahkan menunjukkan kebaikan hati dengan berhenti dan membantu mengarahkan jalan agar kedua orang tua itu selamat. Sungguh luar biasa!

Tujuh Langkah Kesabaran

Alkisah, di sebuah rumah gubuk terpencil di sebuah pegunungan yang indah, tinggallah seorang kakek tua yang terkenal karena kebijaksanaannya. Banyak orang dari berbagai tempat datang kepadanya untuk meminta nasihat si kakek tua itu. Suatu hari, datanglah seorang pria yang telah tiga hari lamanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampai di hadapan si kakek tua, pria itu memohon nasihat tentang bagaimana cara mengendalikan emosi atau amarah yang cepat terbakar dan tidak terkendali.

Setelah sejenak memandang pria tersebut, sang kakek tua nan bijak itu pun berkata, "Anak muda, setiap kali engkau tersinggung, marah atau terpancing emosi, ingatlah tujuh langkah kesabaran. Yaitu melangkah mundur tujuh langkah, lalu maju lagi tujuh langkah, dan lakukan hal tersebut tujuh kali kali berturut-turut. Lakukan dengan langkah mantap sambil berhitung. Setelah itu, barulah engkau ambil keputusan untuk bertindak."

Merasa mendapatkan nasihat bijak, dengan gembira pria itu pulang kembali ke desanya. Ia yakin sekali masalah emosi sulit terkendali yang dideritanya pasti bisa terpecahkan. Tiga hari perjalanan kembali pulang harus dia tempuh. Hari telah larut ketika ia sampai di rumah. Dengan pakaian yang lusuh, badan letih dan pegal-pegal, serta perut sangat lapar, ia masuk ke dalam kamar istrinya. Didalam benaknya terbayang makan malam dan air hangat untuk mandi yang biasa disediakan oleh istrinya. Tetapi seperti disambar geledek, pria itu mendapati istrinya sedang tertidur lelap di balik selimut dengan orang lain.

Demi melihat pemandangan sepertiitu, penyakit lamanya langsung kambuh; emosi membutakan akal sehatnya, "Kurang ajar! Baru ditinggal sebentar saja sudah berani memasukkan orang lain ke kamar...!" Dengan kemarahan yang meluap, pria itu mencabut belati bermaksud menghabisi mereka berdua. Tetapi, spontan dia teringat dengan nasihat si kakek tua yang bijak dan langsung mempraktekkannya; sambil mengangkat tangan menghunus belati dan hembusan napas kemarahan, hentakan kaki dan suara hitungan pun segera terdengar. Kegaduhan itu akhirnya membangunkan sang istri.

Ketika istrinya bangun dan menyingkap selimut, betapa kaget sekaligus leganya pria itu karena ternyata yang menemani istrinya tidur adalah ibunya sendiri. Detik itu juga rasa syukurterucap dari mulutnya yang bergetar. Ia telah berhasil mencegah satu tindakan emosional dan bodoh. Entah apa yang akan terjadi seandainya dia menuruti emosinya belaka, tidak menuruti nasihat si kakek bijak, mungkin dia telah membunuh orang-orang yang paling dicintainya, dan hidupnya akan dirundung penyesalan seumur hidup.

Perbedaan Orang Sukses dan Gagal

Orang yang sukses selalu kelebihan 1 cara, orang yang gagal selalu kelebihan 1 alasan.

Apa maknanya?

Dalam memperjuangkan apa yang kita impikan, perjalanan kadang tidak semulus seperti yang kita rencanakan. Tidak semudah seperti yang kita harapkan. Selalu saja ada hambatan, kesulitan, gangguan, kekeliruan, bahkan mungkin menemui kegagalan.

Apa bedanya, orang sukses dengan orang gagal dalam menghadapi kondisi demikian?

Bedanya pada cara masing-masing menyikapi aral yang ada di hadapannya. Bedanya, ada pada sikap mental mereka dalam melihat masalah tersebut. Bedanya, pada siapa yang bermental menang dan siapa yang bermental kalah.

The looser atau orang gagal, jika dihantam kesulitan, mereka selalu bisa membuat 1001 alasan mengapa dia gagal. Dalih itu muncul silih berganti, seakan tiada habisnya! Dia selalu bisa menemukan alasan mengapa dia gagal. Dan hampir semuanya menunjuk dan menyalahkan pihak di luar dirinya. Itulah mental pecundang. Jelas, orang gagal selalu kelebihan satu alasan.

Sebaliknya, the winner atau pemenang jika dihadapkan pada rintangan, halangan , kesulitan, bahkan kegagalan, akan melihat ke dalam terlebih dahulu, melakukan introspeksi diri. Dia akan mencari penyebabnya dari dalam, menilai, dan mencari kekurangan/kesalahan dari apa yang menjadi penyabab timbulnya masalah dan kegagalan.

Jika sebab ditemukan, dia akan mencari cara untuk memperbaikinya. Itulah sebabnya, orang sukses terus bertambah sukses. Memang, orang sukses selalu kelebihan 1 cara.

Seperti pepatah yang similar dalam bahasa inggris mengatakan "The winner sees an answer for every problem. The looser sees the problem in every answer". Seorang pemenang selalu melihat sebuah jawaban di setiap masalah, sedangkan seorang pecundang melihat sebuah masalah di setiap jawaban.

Bagi saya, kesuksesan sejati adalah akumulasi dari kegagalan-kegagalan kecil yang mampu kita atasi. Sehingga halangan, kesulitan, kegagalan, justru merupakan sarana terbaik dalam melatih dan mematangkan mental kita.

Pastikan: kita selalu kelebihan 1 cara, bukan kelebihan 1 alasan.

Salam sukses luar biasa!!

Pemancing Cilik

Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat menikmati permainannya.

Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.

Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.

"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.

"Lho, kalau diperhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang ditawarkan kepadamu, kenapa ditolak?"

"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.

"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya,paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"

Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.

Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"

Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."

Kedamaian Hati

Alkisah, di sebuah kerajaan, sang Raja mengadakan sebuah sayembara. Dengan hadiah berupa emas yang sangat berharga kepada rakyat yang bisa melukis tentang "kedamaian". Saat diumumkan, banyak seniman dan pelukis mencoba mengikuti sayembara dan berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut.


Waktu yang dijanjikan pun tiba. Baginda Raja datang ke tempat para seniman melukis dan berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Di antara sekian banyak lukisan, hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukai baginda Raja, yang dianggap mampu mewakili tema tentang kedamaian. Dan sang Raja harus memilih satu di antara keduanya.


Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga itu bagaikan cermin sempurna yang memantulkan kedamaian, gunung-gunung menghijau yang menjulang mengitari danau, di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arakan. Sungguh lukisan pemandangan alam yang sangat indah. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan tentang kedamaian jiwa bagi yang melihatnya.

Sedangkan lukisan kedua menggambarkan pemandangan pegunungan juga. Namun tampak kasar, gundul, dan gersang. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai yang telah mereda. Di sisi gunung, ada air terjun deras yang berbuih-buih. Sekilas, lukisan itu sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik. Di balik air terjun itu tumbuh semak-semak menghijau di atas sela-sela bebatuan. Dan di antara semak-semak itu, tampak seekor induk burung pipit berada di atas sarangnya, sedang mengerami telurnya dan terlihat sebuah kehidupan baru berupa anak burung pipit yang menetas dari pecahan telur. Benar-benar indah dan damai.


Lukisan manakah yang memenangkan lomba? Sang Raja memilih lukisan nomor dua sebagai pemenangnya. Banyak orang pun bertanya: mengapa lukisan itu yang dimenangkan oleh baginda Raja?


Baginda Raja menjawab dengan lantang, "Lihatlah burung pipit di dalam lukisan ini, mampu menggambarkan sebuah kedamaian,tanggung jawab, dan kehidupan baru. Lihat gambaran situasi alam yang buruk dan tidak mendukung, tetapi ibu pipit memenuhi segenap tanggung jawabnya, tetap mengerami telurnya hingga menetas.

Rakyatku.., kedamaian itu bukan berarti kita harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan, atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah suasana hati dan pikiran yang tenang dan damai. Meski kita berada di tengah-tengah keributan luar biasa namun tidak dipengaruhi keadaan luar. Kedamaian hati adalah kemampuan menjaga keseimbangan dan kebijaksanaan di segala situasi dan tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik."


Semua yang mendengar perkataan raja pun dengan diam mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

Mencari Pekerjaan

Pada suatu ketika, tampak seorang pemuda yang sedang melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Dia sudah berhasil lolos di tes-tes pendahuluan. Dan kini, tiba saatnya dia harus menghadap kepada pimpinan untuk wawancara akhir.

Setelah melihat hasil tes dan penampilan si pemuda, sang pimpinan bertanya, "Anak muda, apa cita-citamu?"

"Cita-cita saya, suatu hari nanti bisa duduk di bangku Bapak," jawab si pemuda.

"Untuk bisa duduk di bangku ini, tentu tidak mudah. Perlu kerja keras dan waktu yang tidak sebentar. Betul kan?" Si pemuda menganggukkan kepala tanda setuju.

"Apa pekerjaan orang tuamu?" lanjut si pimpinan kepada si pemuda.

"Ayah saya telah meninggal saat saya masih kecil. Ibulah yang bekerja menghidupi kami dan menyekolahkan saya."

"Apakah kamu tahu tanggal lahir ibumu?" kembali pimpinan itu bertanya.

"Di keluarga kami tidak ada tradisi merayakan pesta ulang tahun sehingga saya juga tidak tahu kapan ibu saya berulang tahun."

"Baiklah anak muda. Bapak belum memutuskan apakah kamu diterima atau tidak bekerja di sini. Tetapi ada satu permintaan bapak. Saat di rumah nanti lakukan sebuah pekerjaan kecil, yaitu cucilah kaki ibumu dan besok datanglah kemari lagi."

Walaupun tidak mengerti maksud dan tujuan permintaan tersebut, demi permintaan yang tidak biasa dan karenasangat ingin diterima bekerja di sana, dia lakukan juga perintah itu. Saat senja tiba, si pemuda membimbing ibunya duduk dan berkata, "Ibu nampak lelah, duduklah Bu. Saya akan cuci kaki Ibu."

Sambil menatap takjub putranya, si ibu menganggukkan kepala. "Anakku, rupanya sekarang engkau telah dewasa dan mulai mengerti."

Si pemuda pun mengambil ember berisi air hangat. Tak lama, sepasang kaki ibundanya yang tampak rapuh, berkeriput, dan terasa kasar di telapak tangannya itu mulai direndam sambil diusap-usap dan dipijat perlahan. Demi melihat kondisi kaki ibunya yang pecah-pecah karena bekerja keras selama ini, tanpa terasa airmata pemuda itu menetes perlahan.

"Ibu, terima kasih, Bu. Ibu telah bekerja berat selama ini untuk Ananda. Berkat kaki inilah Ananda bisa menjadi seperti hari ini," ucapnya lirih, terbata-bata menahan tangis. Mereka pun saling berpelukan dengan penuh kasih dan kelegaan.

Tiba keesokan harinya, sang pimpinan berkata, "Coba ceritakan, bagaimana perasaanmu saat kamu mencuci kaki ibumu?"

"Saat mencuci kaki ibu, saya mengerti dan menyadari akan kasih ibu yang rela berkorban demi anaknya. Melalui kaki ibu yang semakin berkeriput dan tampak rapuh, saya tahu, bahwa saya harus bekerja dengan sungguh-sungguh demi membaktikan diri kepada ibu saya," ucapnya tulus tanpa kesan mengada-ada.

Mendengar jawaban si pemuda, akhirnya si pimpinan menerima dia bekerja di perusahaan itu. Pimpinan itu yakin, seseorang yang tahu bersyukur dan tahu membalas budi kebaikan orang tuanya, adalah orang yang mempunyai cinta kasih. Dan orang yang seperti itu pasti akan bekerja dengan serius, sepenuh hati, dan bertanggung jawab.